Bersama Santri Nurul Ilmi Tajur Bogor

Bersama Santri Nurul Ilmi TaJur Bogor

30 Desember 2025, aku diundang oleh Laznas Darul Qur'an untuk mengisi acara di Rumah tahfidz Nurul Qolbi TaJur Bogor. Awalnya aku bingung mau membicarakan apa di sana ? Kebingungan aku terjawab setelah pihak Darul Qur'an memberikan susunan acara. Ternyata aku hanya dipinta untuk menceritakan tentang apa yang aku alami dan bagaimana cara menyikapinya.

Kebetulan peserta yang ikut adalah para hafidz Qur'an yang notabenenya adalah para penyandang disabilitas, tuna netra, dan anak-anak yatim.

Walau sekedar menceritakan apa dan bagaimana aku menyikapi yang terjadi pada diriku, aku juga harus mengisi cerita itu dengan cerita-cerita lain sebagai penguat cerita. Kebetulan aku pernah membaca beberapa cerita yang berkaitan dengan  Nabi Ayub as, yang terkena ujian penyakit yang luar biasa dan Nabi Ayub mampu menghadapi ujian itu dengan kesabaran yang luar biasa hingga Allah mengembalikan kesehatannya bahkan menjadikan rupanya yang menawan.

Aku juga menceritakan seorang tunanetra yang mengeluh akan takdirnya sebagai orang yang tak pernah melihat indahnya dunia. Ia terus meminta kepada Allah agar ia bisa melihat seperti orang kebanyakan. Namun,suatu hari kampung halamannya kedatangan para manusia pemakan daging manusia alias kanibal. Seluruh pemuda ditangkapi termasuk pemuda buta. 

Singkat cerita, kepala suku ingin dihidangkan makanan daging manusia. Dipanggillah para koki dan diperintahkan untuk menyembelih manusia sebagai hidangan makanan hari ini. Namun, koki memberikan informasi bahwa tinggal satu orang, itu pun buta kedua matanya. Mendengar penjelasan itu sang kepala suku, tidak berminat terhadap pemuda itu. Akhirnya terselamatkanlah pemuda itu. Pemuda itu dikeluarkan dari tempat penampungan dan di usir untuk menjauh dari suku kanibal tersebut.

Dalam perjalanannya pemuda buta itu bersyukur kepada Allah gara-gara buta kedua matanya terbebaskan dari penyembelihan. Dahulu ia mengeluh setelah kejadian ia bersyukur dan menerima apa yang sudah ditetapkan oleh Allah. Ketika aku menceritakan hal itu, hampir seluruh peserta yang tuna netra tertawa. 

Alhamdulillah, keberadaanku di tengah-tengah mereka memberikan setitik kebahagiaan. Aku senang melihat mereka bisa tertawa di saat Allah sedang menguji mereka. Setidaknya mereka tidak berputus asa dalam mengarungi samudera kehidupan ini.

Allah tidak akan menguji hambanya melampaui batas kemampuannya, itupun aku rasakan. Di saat aku butuh biaya ada saja Allah gerakan orang untuk membatu, di saat aku butuh kendaraan Allah berikan rezeki kepada anakku sehingga aku bisa ke madrasah dengan aman dan nyaman. Ketika aku butuh orang untuk membantuku, Allah hadirkan untuk membantuku.

Bagi peserta anak-anak yatim,aku menceritakan tentang sosok Nabi Muhammad saw, mulai dari kelahirannya hingga menjadi seorang Nabi dan pemimpin umat manusia.

Intinya pada pertemuan itu kehadiranku untuk memberikan motivasi dan inspirasi kepada para penghafal Al-Qur'an yang notabenenya seorang yang sedang keterbatasan. 




 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melangitkan Doa

Hadiah dari Allah yang Terabaikan

Pendidikan Mengubah Hidupku