Manjat Pintu Tetangga

Manjat Pintu Tetangga 

#Rekamjejakgurumadrasahinspiratif 

Suara tarhim penjaga musala di musala  depan rumah membangunkan tidur panjangku. Aku bangkit dan bergegas menuju kamar mandi, dengan dinginnya air kuserami seluruh tubuhku, tidak ada yang lepas terkena air. 

Tubuhku menggigil kedinginan, tanganku dengan replek mengambil handuk yang aku gantung pada paku yang menancap di dinding kamar mandi. Tubuhku terasa segar kembali rasa kantuk pun pergi entah ke mana. 

Setelah selesai memakai seragam sekolah, aku langsung menuju musala untuk melaksanakan salat berjamaah. Sesampainya di sana aku mengambil air wudhu di tempat wudhunya musala. Tempat wudhunya berbentuk kolam besar, aku tinggal menyauknya dengan tangan lalu aku basuh seluruh anggota tubuh, sementara untuk membasuh kaki aku gunakan batuk kelapa sebagai wadah untuk mengambil air lalu aku guyurkan berkali-kali ke kaki. Airnya cukup dingin seperti sedang berada di puncak Bogor. Terkadang aku juga suka mandi dengan air kolam yang diperuntukkan untuk wudhu. Tentunya aku mengisinya kembali dengan air yang di ambil dari sumur kerek. 

Tidak banyak jamaah yang datang untuk salat berjamaah, sepertinya anak remajanya aku saja. Teman-teman sepermainan jarang datang kalau salat Subuh. Hanya orang-orang tertentu saja yang datang setiap harinya. Selepas salat aku tidak buru-buru langsung meninggalkan musala, aku selalu mengikuti wiridan yang cukup panjang. Dengan membiasakan mengikuti wiridan panjang, aku pun hafal bacaan dan urutan wirid baik salat subuh dan magrib. 

Di setiap Musala di kampungku setiap salat Magrib dan Subuh wiridannya cukup panjang, kecuali salat Isya, Zuhur, dan Ashar. 

Selepas salat aku kembali ke rumah, dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke madrasah, namun sebelum berangkat aku harus ke rumah tetangga yang bersebelahan dengan rumahku. Aku  mengintip dari lobang angin di atas pintu, nampaklah jam dinding dengan tiga jarum jam yang mengarah kepada angka-angka satu hingga dua belas. Jarum jam yang pendek terus berputar sementara jarum yang panjang sesekali bergerak diikuti dengan jarum yang agak panjang pun tidak ketinggalan ikut berputar. 

Aku jarang terlambat masuk kelas, andaikan terlambat bisa dihitung dengan jari. Pukul 05.45 WIB aku harus ada di pinggir jalan raya dan langsung naik kendaraan, sebab rute yang aku lewati melewati kawasan industri, jika lewat dari pukul itu, sudah dipastikan terjebak macet kendaraan dan lautan karyawan dengan berjalan kaki. Maka itu, aku selalu memastikan waktu untuk berangkat ke madrasah agar aku tidak terlambat masuk kelas.  Aku sekeluarga tidak mempunyai jam, baik jam dinding maupun jam tangan. Ya, karena orang tuaku fokus untuk biaya makan dan pendidikan.

Pernah suatu hari ketika aku mau berangkat sekolah orang tuaku tidak punya uang serupiahpun. Orang tuaku langsung ke rumah tetangga untuk meminjam uang sekedar untuk bekal ke madrasah. 

Melihat yang demikian, aku berikrar pada diriku sendiri untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa berpendidikan tinggi. Tentunya agar mudah dikemudian hari untuk mencari rezeki. Jangan sampai seperti orang tuaku yang sekolah juga tidak tamat. Aku berharap Jangan sampai anak-anakku mengalami seperti aku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melangitkan Doa

Hadiah dari Allah yang Terabaikan

Pendidikan Mengubah Hidupku